Pak Kojib pulang dengan lesu. Lelah yang menggelayuti tubuhnya tak jua
hilang meski segelas teh hangat mulai menjalari relung-relung ususnya.
Selepas salat Maghrib, dia leyeh-leyeh di depan TV menonton berita yang
berisi kampanye Capres yang penuh kekelaman, sambil mengunyah singkong
goreng yang masih panas yang disediakan istrinya.
"Pak, minggu depan anak-anak mulai bayar sekolah lho. Bowo bayar uang
masuk SMA. Sedang Joko bayar daftar ulang SMP-nya. Belum beli seragam
dan buku pelajaran baru," tiba-tiba suara istrinya mengoyak
kesantaiannya.
"Eenggg....."
"Terus kemarin Satpam komplek bolak-balik nagih iuran warga buat
mbenerin jalan dan lapangan futsal," saut istrinya.
"Tapi, Bu..."
"Waktu hujan deras semalam, dapur kita bocor, Pak. Kayaknya gentengnya mulai melorot deh Pak," cerocos istrinya tak berhenti.
"Nganu, Bu..."
"Lihat tuh Pak, tetangga sebelah. Mobilnya baru. Padahal aku lihat-lihat
suaminya di rumah aja," tanya istrinya seperti tak bisa berhenti.
"Tapi..."
"Kulkas ama mesin cuci juga mulai ngadat tuh, Pak. Tanganku mulai
pecah-pecah nih nyuci baju seharian.' sergah istrinya tanpa memberi
kesempatan Pak Kojib bicara.
"Bu, dengar dulu. Aku mau jelaskan!" suara Pak Kojib sedikit mengeras.
Bu Kojib akhirnya terdiam sesaat.
"Kamu itu kalau sudah ngomong persis copras-capres itu. Masih untung gak nyebar-nyebar keburukanku ke tetangga."
"Kayak capres gimana sih, Pak? Aku kok gak paham."
"Capres-capres itu senang banget lempar janji-janji ini itu. Mau bangun
ini, bangun itu. Beli ini, beli itu. Gratisin ini, gratisin itu. Sama
kayak Ibu ini lho. Minta ini, minta itu. Emang duit darimana?'' tanya
Pak Kojib sengit.
"Ya duit dari hasil Bapak kerja lah. Bukannya tugas suami itu mencari nafkah buat keluarganya?" jawab istrinya ketus.
"Aku jelasin ya, Bu. Kita ngga bisa lagi mengandalkan kekayaan kita.
Sawah kita yang di ujung desa itu sudah berapa tahun ngga menghasilkan
apa-apa, karena ngga ada yang ngurus. Kolam ikan yang diurus sama
saudara itu juga sudah lama ngga keurus. Duitnya nggak pernah disetor
lagi ke kita. Satu-satunya harapan kita ada di toko di dekat pasar itu.
Sementara Aku sendiri sudah semakin tua, mengurusi toko yang makin sepi.
Jadi duit darimana buat bayar ini-itumu tadi?" jawab Pak Kojib.
"Jadi piye, Pak. Namanya keluarga kan perlu nafkah. Tanpa itu ya bisa bubar keluarga ini?" tanya istrinya serius.
"Mangkanya kita perlu puter otak, Bu. Sawah dan kolam ikan harus kita
urus sendiri. Siapa tahu dari situ ada penghasilan tambahan. Nah, untuk
penghasilan utama mau ngga mau kita harus mengandalkan toko itu. Tentu
perlu tambahan modal. Desainnya kita perbaharui. Kualitas barang yang
kita jual juga harus tambah bagus. Dan yang lebih penting, kita perlu
tambahan karyawan lagi. Aku ini sudah ngga kuat kalau sendirian mengurus
toko," jawab Pak Kojib panjang lebar.
"Ooo... gitu ya, Pak. Aku sih setuju-setuju saja. Tapi ada pertanyaan lagi. Buat itu duit darimana?" kata istrinya semangat.
Tiba-tiba terdengar azan Isya, menghentikan dialog pak Kojib dan istrinya.
"Sudah Isya, Bu. Ayo salat terus makan malam. Nanti kita lanjutkan kalau
mau tidur," kata Pak Kojib dengan senyum manis yang disambut pula
dengan sama manis oleh istrinya.
***
Indonesia adalah keluarga Pak Kojib. Ada Bu Kojib, istrinya, dan Bowo
dan Joko, kedua anaknya yang dibanggakan. Sama seperti keluarga ini,
Indonesia adalah negara yang dulu dikenal kaya dengan sumber daya alam.
Tapi sekarang kekayaan alam itu semakin lama semakin menipis, bahkan
kepemilikannya banyak yang berpindah ke negara asing.
Indonesia tak bisa lagi mengandalkan sumber daya alam untuk melanjutkan
kelangsungan hidupnya. Nafas negeri ini kini hampir sepenuhnya ditopang
oleh penerimaan pajak. Hampir 75% !! Sungguh bukan angka yang main-main.
Sementara capres-capres yang beradu saat ini terus mengumbar janji-janji
manis yang semoga bukan hanya pepesan kosong hanya untuk mengisi
pundi-pundi suara yang akan dilupakan saat mereka berkuasa. Mereka tak
pernah memaparkan strategi untuk mencari #duitdarimana untuk mewujudkan janji-janji itu.
Pajak mau tidak mau sekarang adalah pemberi nafkah negara. Dia harus
diperkuat supaya wewenangnya lebih besar sehingga lebih lincah dan
leluasa untuk mencari nafkah buat Indonesia yang kita cintai ini.
Pajak tak boleh lemah atau dilemahkan. Utang yang dipikul negara ini
sudah terlampau berat. Jangan bebani anak cucu kita dengan utang yang
mungkin tak pernah mereka tahu.
Dukung penguatan otoritas pajak dengan mengisi petisi ini, untuk Indonesia yang lebih baik.